Kota Paling dirindukan, Yogyakarta (Part 1)
Satu kota terindah yang selalu dikagumi
para pelancong sepanjang masa. Kota yang menyajikan keunikan melalui kesakralan
adat dan budaya nya. Ini adalah kota ternyaman yang selalu saya rindukan. Kota yang
terkenal dengan banyak julukan; kota pelajar, kota gudeg, kota bakpia, kota
seniman, kota budaya. Kota apa? Yaps, Yogyakarta!
28 Maret 2014, Saya dan 4 orang
teman berangkat dengan menggunakan kereta pagi dari Stasiun Kiaracondong. Lama
perjalanan kami sekitar 7 jam, dan tiba sekitar pukul 2 siang di stasiun
Lempuyangan. Sesampainya disana, kami berjalan kaki ke Malioboro melalui jalan
tikus atau jalanan ber-gang dengan bermodalkan bertanya pada warga sekitar dan
googling. Berlanjut dengan pencarian home stay murah on the spot di Jln
Sosrowijayan. Kami menemukan satu penginapan yang hanya menawarkan 175.000/malam
dengan ukuran kamar lumayan besar disertai fasilitas double bed, kamar
mandi dalam, kipas, dan TV. Karena kami berjumlah lima orang, jadi setiap orang
membayar sekitar 35000 per malam. Murah bukan?
Hari pertama. Keramaian
kota ini memang tak diragukan lagi. Tepat pukul 5, jalan malioboro di penuhi
oleh banyak wisatawan dari berbagai kota dan mancanegara. Bagi kami para
millenials, moment berfoto merupakan hal wajib yang dilakukan ketika melancong.
Tujuan utama kami adalah Marka tanah bertuliskan Malioboro yang selalu hits
muncul di mesin pencarian.
Setelah puas berebutan dengan wisatawan lainnya
untuk befoto disana, kami mulai menjelajah setiap sudut malioboro. Dari mulai
berburu kuliner lesehan di pinggiran malioboro yang semakin malam semakin penuh
oleh pengunjung yang kelaparan, hingga berlanjut berburu souvenir unik
ala jogja. Saat itu saya membeli beberapa miniatur candi prambanan, Borobudur dan
Tugu Yogya untuk dibagikan kepada teman-teman kost. Tepat pukul 10 malam kami
memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Karena keesokan pagi nya kami masih memiliki
daftar wisata yang sangat banyak untuk di kunjungi.
Hari kedua. Kami bangun
pukul 5 pagi lalu bersiap-siap untuk melanjutkan ke destinasi selanjutnya.
Namun, teman saya yang bernama Tyas ingin menyempatkan bersilaturahmi ke rumah
saudara. Akhirnya pagi itu, kami memutuskan untuk berkunjung ke rumah saudara
nya Tyas terlebih dulu. Alhamdulilah, kami di sambut dengan baik, bahkan Saya
dan teman-teman ditawari tempat menginap di rumahnya. Tanpa berfikir panjang
kami mengiyakan tawaran tersebut. Setelah lama berbasa-basi dengan saudara nya
Tyas, kami pamit untuk pergi ke Candi Prambanan menggunakan Transjogja.
Moda transportasi favorit yang
banyak digunakan para pelancong pengiritan seperti saya adalah Transjogja.
Selain murah, shelternya pun mudah ditemukan dan menjangkau banyak tempat
wisata. Biaya sekali jalan adalah Rp. 3000. Namun ternyata, fasilitas
transportasi murah meriah ini pun tidak hanya di nikmati oleh wisatawan local.
Dua orang turis ‘bule’ asal Prancis pun duduk bersama saya dengan destinasi
sama, candi Prambanan. Lucunya, mereka tidak melepaskan sebuah peta Yogyakarta sepanjang
bus kota melaju dan terus bertanya pada teman sesama bule nya apakah mereka
telah sampai atau belum. Akhirnya, karena merasa kasihan dengan kebingungan
mereka saya mengajak mereka berbincang, dan menjelaskan bahwa destinasi kita
sama jadi mereka bisa mengikuti saya dan teman-teman.
Ternyata benar, mereka berdua
setia mengikuti saya, hingga akhirnya di bagian tiket kami pun berpisah karena
mereka memilih berkeliling dengan seorang guide dan memutuskan
mengunjungi candi Ratu Boko terlebih dulu. Padahal saya berharap bisa lebih
banyak berbincang lagi dengan mereka. Tapi tak mengapa, karena saya dan
teman-teman sudah sempat berfoto selfi dan wefie dengan si bule sekaligus bonus
latihan berbicara bahasa inggris dengan penutur asli nya.
Baiklah, mari melanjutkan kisah
perjalanan di Prambanan setelah berpisah dari si bule Prancis. Sepengetahuan
saya, candi ini merupakan candi hindu terbesar di Indonesia. Candi ini
berbentuk persegi panjang, dan terdiri dari tiga pelataran, yaitu pelataran
luar (jaba), pelataran dalam (tengahan) dan pelataran dalam (njeron). Untuk
bagian pelataran luar hanya lahan kosong dengan beberapa reruntuhan batu, yang
menurut beberapa pendapat belum diketahui apakah dulu pernah ada hiasan disana
atau tidak. Selanjutnya, pelataran tengah. Bagian ini dulu dikelilingi oleh
pagar batu yang saat ini pun telah menjadi reruntuhan. Pelataran ini dihiasai
oleh empat teras berundak yang semakin dalam semakin tinggi, setiap teras
terdiri dari candi-candi kecil berukuran 6 m2 dan tinggi sekitar 14
m2.
Bagian terkahir adalah pelataran
dalam yang dianggap sangat sakral atau suci. Kami pun diminta untuk menggunakan
kain putih bercorak hitam di sekitar pelataran. Disini terdapat dua barisan
candi yang membujur kearah utara dan selatan yaitu candi wisnu, Syiwa, dan
Brahma di hadapan ketiganya terdapat candi garuda, nandi dan angsa. Sedangkan
di bagian timur menghadap barat terdapat tiga candi yang dinamai candi wahana.
Namun sayangnya, pada saat itu
candi wisnu dan syiwa tengah mengalami perbaikan. Jadi kami hanya berfoto di
candi-candi kecil di sekeliling candi tersebut. Setelah puas berfoto dan
mendengarkan guide dari rombongan lain menjelaskan semua sejarah candi. Tepat
pukul 2 siang, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke keraton. Sebelum
pulang dari candi prambanan, kami bertemu dengan beberapa teman lainnya dari
purwakarta. Namun, mereka masih mencari penginapan, jadi ahirnya kami tetap
berpisah disana.
Destinasi selanjutnya adalah
keraton, namun sangat disayangkan kami terlalu sore datang. Keraton telah di
tutup untuk kunjungan. Akhirnya kami memutuskan untuk makan nasi kucing di
sebuah angkringan, karena hari semakin sore dan juga hujan. Akhirnya, kami
beristirahat di masjid agung Yogyakarta atau yang disebut juga mesjid Agung Gedhe Kauman. Berstruktur bangunan yang
bagus, tertata, dan tentunya hal yang tak terlewatkan untuk dinikmati disini selain sebagai tempat beristirahat. Mesjid yang berornamen kental jawa inipun memiliki kisah yang tak
kalah mengesankan. Masih ingat dengan film Kiai Ahmad Dahlan? Yaps. Film
tersebut menceritakan dimana Kiai Ahmad Dahlan merubah poros kiblat mesjid yang selisih kemiringan 23 derajat, selain itu mesjid ini adalah mesjid tertua di Indonesia, bahkan yang saya baca di beberapa situs wisata mesjid kauman menjadi poros dari lima masjid pathok negoro. Mesjid yang di bangun pada jaman Sri sultan Hamengku buwono 1 ini pun menjadi simbol kerajaan mataram.
Setelah melepas lelah
seharian berpanas ria di masjid agung kami pun melanjutkan perjalanan ke Alun
alun kidul jogja yang terkenal dengan pohon beringin kembar nya. Tentu seperti kebanyakan
pelancong lainnya, saya langsung mencoba tradisi masangin disini. Tradisi berjalan diantara pohon beringin
kembar tersebut yang menurut mitos, orang-orang akan kesulitan untuk melewatinya
karena ada kekuatan lain yang mengarahkan tubuh ke arah lain. Namun, jika
berhasil melewatinya semua keinginan orang tersebut akan terkabul! Percaya?
Walahualam. Akhirnya, saya tetap mencoba. Disini banyak penjual tutup mata
berwarna hitam ataupun orang-orang yang menyewakan seharga 5000-15000. Setelah tiga kali mencoba
akhirnya, saya berhasil melewati si pohon beringin kembar tersebut. Adapula
teman saya yang terus mencoba namun juga tetap gagal.
Setelah puas bermain
dengan pohon tersebut, kami melanjutkan untuk berkendara dengan mobil odong-odong yang
telah dihiasi lampu-lampu bertuliskan JOGJA di sekeliling nya. Mobil tersebut
tampak sangat indah dan menarik, biaya sewa pun beragam sesuai dengan ukuran.
Untuk ukuran yang kami coba, mereka menyewakan sekitar 50000/putaran. Karena
kebetulan teman kami dari purwakarta pun datang ke alun-alun jogja, akhirnya
kami menyewa mobil tersebut bersama dengan harga 100000 untuk 6-7 orang. Sayang
sekali karena sebelum proses berkendara tersebut saya dipertemukan dengan
seorang teman lama. Akhirnya saya lebih memilih menemani teman lama saya
tersebut minum kopi di tengah alun-alun yang telah di sulap menjadi ala café
lesehan terbuka dengan lampu-lampu lilin di sekitarnya ditambah langit malam jogja yang cerah bergemintang. Romantic!
Satu hal yang kurang saya sukai
adalah banyaknya pengamen jalanan disini. Setiap beberapa menit mereka bergantian
datang dan mengganggu kekhidmatan nostalgia kami. Namun, suasana alkid yang semakin malam semain semarak membuat saya betah berlama-lama di kerumunan orang. Banyak sekali yang bisa saya nikmati, disamping kuliner lesehan nya yang super romantis dan menyejukan hati (hahaha, maaf). Saya juga bisa menikmati naik sepeda tandem atau odong-odong berhias berkeliling alkid dengan harga yang relatif terjangkau.
Setelah puas mengobrol
akhirnya tepat pukul 11 malam, kami di jemput oleh Saudara nya Tyas untuk pulang.
Lalu beristirahat dengan nyaman di rumahnya, dan tentunya yang terpenting
adalah sebelum tidur kami disuguhkan makan malam ala rumahan yang sangat di rindukan
selama melancong di kota orang. Hal terunik di bagian ini adalah saat tidur. Berbeda dari malam sebelumnya, kami bisa tidur dengan sangat lelap karena lelah perjalanan Bandung-Jogja. kali ini kami kepanasan semalaman hingga memutuskan untuk tidur di lantai kamar, tapi tetap saja masih terasa panas. Alhasil saya hanya bisa tertidur beberapa jam saja, padahal agenda besok masih sangat panjang, dan merupakan hari terakhir kami di Jogja.
Hari ketiga. Karena hari
sebelumnya, kami gagal mengunjungi keraton. Akhirnya di hari terkhir ini, jam 7
pagi kami bergegas berangkat dengan diantar oleh saudara nya Tyas ke shelter
transjogja. Sesampainya di Keraton saya cukup takjub karena biaya masuk nya
hanya Rp. 5000 saja namun ada tambahan biaya Rp. 1000 bagi wisatawan yang
membawa kamera. Dengan biaya yang sangat murah tersebut saya disajikan dengan
banyak hal mengenai keraton Yogyakarta ini. Bangunan berarsitektur jawa yang
indah dan megah mencerminkan keagungan sang Sultan.
Keraton ngayogyakarta ini pun
merupakan tempat tinggal sultan Hamengku Buwono dan keluarga. Namun sebagian
dari kompleks keraton merupakan objek wisata yang berupa museum; beberapa
menyimpan benda-benda peninggalan kuno, kereta kencana, koleksi batik,
pemberian raja eropa, dan masih banyak lagi. Bahkan saya pun sempat menyaksikan
beberapa wanita dalam balutan pakaian adat jawa berjalan dengan rapi diiringi
beberapa para abdi dalem, ternyata mereka hendak mengambil teh untuk sultan.
Disana pun ada beberapa pagelaran
seni yang khusus di gelar untuk para wisatawan. Saya berkesempatan menyaksikan pertunjukan
seni tari di balairung. Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang
mengabadikan moment tersebut. Selain itu, fasilitas di keraton ini pun sangat
lengkap. Namun, harus selalu diingat bahwa semua wisatawan harus berlaku sopan,
manjaga kebersihan lingkungan dan juga mentaati aturan yang berlaku di keraton
seperti ada beberapa tempat yang tidak diperbolehkan mengambil gambar; tempat
koleksi batik misalnya.
Setelah puas berkeliling keraton
dan seluk beluk nya. Saya dan teman-teman beranjak ke taman sari dengan
berjalan kaki. Jaraknya tidak terlalu jauh hanya bisa ditempuh dengan berjalan
sekitar 10 menit. Namun, jangan aneh jika anda terus di ikuti oleh tukang becak
menawarkan jasa transportasi dengan harga sekitar 15000 saja.
Taman sari pada awalnya merupakan
tempat beristirahat dan meditasi sang raja pada jaman dahulu kala. Bangunan
yang luas nya hampir 10 hektar ini
terdiri dari beberapa bagian diantaranya kolam pemandian, lorong bawah tanah,
jembatan gantung, danau buatan, taman, juga beberapa gedung berarsitektur
eropa, cina dan lain sebagainya. Untuk info rinci dan jelas nya kalian bisa coba
abaca disini
Bagian paling favorit bagi saya
adalah lorong- lorong. Meskipun sedikit gelap namun terlihat sekali betapa
eksotisnya bangunan taman sari ini. Kami menghabiskan waktu hingga siang sekitar
jam 2 siang. Sepulangnya dari taman sari kami sempat berfoto ria didepan
Benteng Vanderberg dan melanjutkan perjalananan ke Pasar Beringharjo. Salah satu
pasar tradisional yang lengkap. Disini kami mencari beberapa batik dan baju
baju khas Jogjakarta yang langsung kami pakai untuk pulang biar terlihat seperti
real backpacker. Setelah seharian berjalan-jalan dan berbelanja kami pun menyempatkan
makan pecel di depan pasar beringharjo, harga nya sangat murah hanya sekitar 6000
-10000 saja. Masalah perut terselesaikan, lalu kami bergegas menuju stasiun
kereta. Karena jadwal pemberangkatan ke Bandung sekitar pukul 6 sore.
Itu merupakan perjalanan singkat
saya dan teman-teman di Jogja, budget yang saya habiskan sekitar 400-500 ribu
saja. Karena kami cukup menghemat pengeluaran makan, menginap, dan transportasi
dengan menumpang di sodara nya Tyas.

Comments
Post a Comment